Bukan Karena Takut, Ini Alasan Mongol Tak Sentuh Mekah dan Madinah
Banyak yang mengira bangsa Mongol tidak menyerang Mekah dan Madinah karena takut kutukan Ilahi. Namun, sejarah mencatat alasan yang lebih kompleks, melibatkan politik, geografi, dan transformasi spiritual bangsa Mongol itu sendiri.
BLOGARTIKELOPINISEJARAH ISLAMSEJARAH
Ibnu Khidhir
12/5/20255 min baca


Ketika nama Mongol disebut dalam sejarah dunia Islam, yang segera terlintas adalah kehancuran Baghdad pada tahun 1258 M — tragedi besar yang menandai runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah. Kota ilmu, peradaban, dan pusat Islam itu luluh lantak di bawah pasukan Hulagu Khan, cucu Jenghis Khan. Sungai Tigris dikabarkan menghitam karena tinta buku-buku yang dibuang ke dalamnya, dan memerah oleh darah para ulama serta penduduk yang terbunuh. Namun, di tengah kedahsyatan itu, muncul satu pertanyaan besar yang masih sering dibicarakan hingga kini: mengapa pasukan Mongol yang begitu perkasa tidak pernah menaklukkan Mekah dan Madinah?
Pertanyaan ini menggoda banyak sejarawan dan pemikir Muslim. Sebagian orang awam mungkin menjawab: “Karena mereka takut kepada Allah, takut kepada kota suci.” Namun jika ditelusuri lebih dalam, jawabannya jauh lebih kompleks, melibatkan politik kekuasaan, kondisi geografi, dan transformasi spiritual yang terjadi dalam tubuh kekaisaran Mongol sendiri.
1. Latar Sejarah: Ketika Dunia Islam Runtuh di Bawah Mongol
Pada abad ke-13 M, kekuatan Mongol menjelma menjadi badai besar yang mengguncang dunia. Dari dataran tinggi Mongolia, mereka menaklukkan negeri demi negeri dengan kecepatan yang tak tertandingi. Di bawah kepemimpinan Jenghis Khan (Temüjin), mereka menundukkan Asia Tengah, Cina Utara, hingga Eropa Timur. Setelah Jenghis wafat, ekspansi dilanjutkan oleh anak dan cucunya, termasuk Hulagu Khan, yang memimpin kampanye ke Asia Barat.
Tahun 1258 menjadi titik hitam bagi dunia Islam. Baghdad, yang kala itu merupakan pusat peradaban dan kekuasaan Abbasiyah, diserbu oleh pasukan Mongol. Khalifah al-Musta’sim Billah terbunuh, dan dunia Islam kehilangan simbol kekhalifahannya. Setelah Baghdad, Hulagu melanjutkan penaklukan ke Suriah dan sebagian wilayah Persia, hingga akhirnya berhadapan dengan kekuatan baru di Mesir — Dinasti Mamluk.
Namun, sebelum sempat bergerak lebih jauh ke arah Hijaz (wilayah Mekah dan Madinah), pasukan Mongol dihentikan oleh takdir sejarah di medan Ain Jalut pada tahun 1260 M. Di sanalah pasukan Mamluk di bawah Sultan Saifuddin Qutuz dan panglima Baybars memukul mundur Mongol untuk pertama kalinya. Kemenangan itu menjadi momentum besar bagi dunia Islam, membuktikan bahwa kekuatan Mongol tidak tak terkalahkan.
2. Faktor Geografis dan Strategis: Jalur Sulit Menuju Hijaz
Salah satu alasan paling kuat mengapa Mongol tidak menyentuh Mekah dan Madinah adalah letak geografisnya. Wilayah Hijaz terletak di barat semenanjung Arab, jauh dari jalur utama penaklukan Mongol yang lebih berfokus di kawasan utara dan timur — Persia, Irak, dan Syam.
Untuk mencapai Hijaz, pasukan Mongol harus menempuh padang pasir luas yang tandus, dengan kondisi ekstrem dan minim sumber air. Bahkan pasukan Arab sendiri pada masa itu memerlukan pengalaman dan pengetahuan mendalam tentang rute kafilah untuk dapat bertahan hidup di jalur itu. Bagi pasukan Mongol yang terbiasa dengan padang rumput Asia Tengah dan stepa Eurasia, kondisi seperti itu hampir mustahil ditaklukkan tanpa mengalami keruntuhan logistik.
Selain itu, wilayah Hijaz tidak memiliki nilai strategis ekonomi seperti Mesir, Syam, atau Irak. Tidak ada pusat pemerintahan besar, kekayaan pertanian, atau jalur dagang utama yang dapat menambah kekuatan ekonomi Mongol. Satu-satunya nilai penting Hijaz adalah nilai religius dan simbolik, yang justru pada masa itu tidak menjadi prioritas bagi Hulagu yang masih beragama Syamanisme (kepercayaan animistik Mongol kuno).
3. Politik dan Aliansi: Peran Mamluk dan Pengaruh Ilkhanat
Setelah kekalahan di Ain Jalut, pasukan Mongol kehilangan momentumnya untuk bergerak ke arah barat daya. Dinasti Mamluk di Mesir menjadi kekuatan baru yang menguasai Syam dan memiliki pengaruh besar hingga ke Hijaz. Para penguasa Hijaz, terutama Syarif Makkah, memiliki hubungan baik dengan Mamluk dan bergantung pada mereka untuk perlindungan serta pasokan kebutuhan.
Sementara itu, wilayah Persia dan Irak berada di bawah kekuasaan cabang Mongol yang dikenal sebagai Ilkhanat, dengan Hulagu dan keturunannya sebagai penguasa. Hubungan antara Ilkhanat dan Mamluk sering kali tegang dan penuh peperangan, tetapi garis kekuasaan mereka jarang menembus semenanjung Arab.
Bahkan dalam peta politik Mongol yang luas, tidak ada strategi resmi untuk menyerang Hijaz. Para sejarawan seperti Rashid ad-Din dan Ibn al-Atsir mencatat bahwa Hulagu Khan lebih tertarik untuk menaklukkan Mesir daripada menguasai tanah tandus di jazirah Arab. Setelah kekalahan di Ain Jalut, prioritas Mongol berubah: mereka lebih fokus menstabilkan kekuasaan di Persia dan memperluas pengaruh ke Timur, bukan ke selatan.
4. Transformasi Spiritual: Dari Penakluk Menjadi Muslim
Alasan paling menarik dan paling menentukan mengapa Mekah dan Madinah selamat dari invasi Mongol adalah masuk Islamnya bangsa Mongol sendiri.
Beberapa dekade setelah kehancuran Baghdad, gelombang Islamisasi mulai menyentuh para penguasa Mongol di Ilkhanat. Tekuder Khan (Ahmad Tekuder), pengganti Hulagu, menjadi penguasa Mongol pertama yang memeluk Islam pada 1282 M. Ia bahkan mengirim surat kepada Sultan Mamluk Qalawun dengan menyebut dirinya “hamba Allah” dan mengajak pada perdamaian atas dasar ukhuwah Islamiyah.
Perubahan ini semakin kuat pada masa Mahmud Ghazan Khan (1295–1304 M), cucu Hulagu yang juga memeluk Islam dan menjadikannya agama resmi kerajaan Ilkhanat. Di bawah Ghazan dan penerusnya, Islam berkembang pesat di Persia dan Asia Tengah. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi pelindung ulama, membangun masjid, dan mendukung penyebaran ilmu pengetahuan Islam.
Transformasi spiritual ini menjadikan Mekah dan Madinah bukan lagi target, tetapi pusat penghormatan. Banyak pemimpin Mongol yang kemudian mengirim hadiah, wakaf, dan perlindungan bagi jamaah haji. Dalam catatan sejarawan Muslim seperti al-Maqrizi, disebutkan bahwa beberapa penguasa Mongol bahkan menanggung biaya rombongan haji dari wilayah kekuasaannya.
5. Aspek Teologis: Perlindungan Ilahi dan Simbol Kesucian
Meski alasan politik dan geografi dapat menjelaskan banyak hal, kaum Muslim meyakini ada dimensi spiritual yang lebih tinggi di balik selamatnya dua kota suci. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍۢ بِظُلْمٍۢ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan barang siapa bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melakukan kejahatan secara zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya sebagian azab yang pedih.”
(QS. Al-Hajj: 25)
Ayat ini sering dijadikan landasan bahwa Mekah memiliki perlindungan Ilahi. Siapa pun yang berniat jahat terhadapnya, akan dihadapkan pada kehancuran. Banyak sejarawan Muslim menafsirkan bahwa meski Mongol memiliki kekuatan militer luar biasa, kehendak Allah tidak mengizinkan mereka menodai tanah suci.
Dan memang sejarah menunjukkan bahwa setelah menghancurkan Baghdad, kekuasaan Mongol mulai melemah secara bertahap. Kemenangan Mamluk di Ain Jalut dan Islamisasi di tubuh Mongol merupakan tanda-tanda perubahan besar yang mengarah pada pembalikan nasib sejarah.
Dari Ancaman Menjadi Penjaga Peradaban
Mekah dan Madinah selamat bukan semata karena ketakutan Mongol, tetapi karena rangkaian sebab yang saling berhubungan: medan yang sulit ditembus, faktor politik yang tidak menguntungkan, serta perubahan ideologi dalam tubuh kekuasaan Mongol itu sendiri.
Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi simbol kekuasaan Allah — bahwa di balik segala kekuatan manusia, ada kehendak Ilahi yang menjaga tempat-tempat suci-Nya. Bangsa yang pernah menghancurkan jantung dunia Islam kemudian justru menjadi bagian dari peradaban Islam, membawa ilmu dan budaya baru ke Asia Tengah dan Timur.
Sejarah ini mengingatkan kita bahwa Islam bukan hanya agama peperangan, tetapi agama transformasi — yang mampu mengubah penakluk menjadi pembela, dan mengubah kehancuran menjadi kebangkitan. Dari tragedi Baghdad hingga damainya Tanah Haram, semuanya menunjukkan satu hal: bahwa kehendak Allah selalu melampaui rencana manusia.
Baca Juga:
>>Perjalanan Lintas Waktu: Festival Modern Souq Ukaz di Arab Saudi
>>Keindahan Tersembunyi di Kota Taif, Makkah, Saudi Arabia
>>Kisah Inspiratif Perjalanan Haji Ibnu Battuta
>>Mengapa Nabi Hijrah Ke Madinah? Ini Alasannya!
>>Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Manasik Umrah Lengkap 2025: Panduan Doa, Tata Cara, dan Tips Jamaah
>>Niat Umrah Bersyarat: Doa Arab, Terjemahan, dan Penjelasan Lengkap
>>Fast Track Raudhah: Apa Itu, Cara Daftar, dan Keuntungan bagi Jamaah
>>Rahasia Bisa Masuk Raudhah Lebih dari Sekali dalam Sehari
>>Misteri dan Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Panduan Aplikasi Nusuk 2025: Cara Daftar, Booking Raudhah, dan Fast Track
>>Bolehkah Perempuan Melaksanakan Umrah Saat Haid? Begini Penjelasan Ulama
>>Berapakah Tarif Biaya Badal Umrah 2025?
>>Mengapa Umrah Disebut Haji Kecil? Ini Dia Sejarahnya!
>>Inilah Alasan Mengapa Ka'bah Dipenuhi Oleh Berhala Pada Masa Jahiliyah!
