Isra’ Mi’raj dan Bumi yang “Sekecil Cincin”: Isyarat Nabi tentang Alam Semesta
Benarkah Isra’ Mi’raj mustahil secara akal? Hadis Nabi tentang bumi seperti cincin di padang pasir memberi isyarat kosmik yang justru menguatkan kebenaran Isra’ Mi’raj dan selaras dengan sains modern.
BLOGSEJARAH ISLAMSIRAH NABAWIYAHSEJARAHJEJAK RASULARTIKEL
Ibnu Khidhir
12/10/20253 min baca


Isra’ Mi’raj sering diperdebatkan bukan karena dalilnya lemah, tetapi karena akal manusia terbiasa mengukur realitas dari skala bumi. Perjalanan dalam satu malam dari Makkah ke Baitul Maqdis, lalu menembus lapisan langit, terasa mustahil jika bumi dianggap besar, dominan, dan menjadi pusat segalanya.
Namun Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam justru sejak awal telah meruntuhkan cara pandang itu. Dalam beberapa ungkapan beliau, bumi dan langit tidak ditempatkan sebagai pusat kosmos, melainkan sebagai bagian yang sangat kecil dari ciptaan Allah yang luas.
Salah satu ungkapan Nabi yang paling mengguncang adalah perumpamaan tentang cincin yang dilemparkan ke padang pasir. Kalimat sederhana, tetapi mengandung pandangan kosmik yang jauh melampaui zamannya. Di sinilah Isra’ Mi’raj mulai terasa bukan sebagai dongeng, melainkan sebagai peristiwa yang logis dalam skala realitas yang lebih besar.
Hadis tentang “Cincin di Padang Pasir”
Ungkapan ini bersumber dari hadis sahih yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat. Salah satu riwayat paling terkenal datang dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.
Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:
مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ فِي أَرْضٍ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى الْحَلْقَةِ
“Tidaklah tujuh lapis langit dibandingkan dengan Kursi kecuali seperti sebuah cincin yang dilemparkan di tanah padang pasir yang luas. Dan keutamaan ‘Arsy dibanding Kursi seperti keutamaan padang pasir dibanding cincin tersebut.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis. Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebut makna hadis ini sebagai penegasan tentang luasnya ciptaan Allah yang tidak terjangkau oleh persepsi manusia.
Sebagian ulama juga menukil riwayat serupa dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dengan makna yang sejalan, meskipun redaksi berbeda. Intinya tetap sama: bumi dan langit berada pada skala yang sangat kecil dalam kosmos.
Mengapa Perumpamaan Ini Sangat Menguatkan Isra’ Mi’raj
Pada abad ke-7, manusia belum mengenal konsep galaksi, tata surya, atau alam semesta mengembang. Langit dipandang sebagai atap besar yang dekat. Bumi dianggap luas dan dominan.
Namun Nabi shallallahu alaihi wasalam justru menyampaikan pandangan yang berlawanan. Perumpamaan cincin dan padang pasir bukan sekadar bahasa puitis. Padang pasir adalah simbol ruang yang nyaris tak berbatas secara visual, sementara cincin adalah benda kecil yang mudah hilang dari pandangan.
Ungkapan seperti ini hanya masuk akal dari sudut pandang seseorang yang memandang dari luar skala bumi. Dari permukaan bumi, bumi tidak pernah terasa kecil. Tetapi dari kejauhan kosmik, bumi memang tampak nyaris tak berarti.
Di sinilah Isra’ Mi’raj menemukan pijakan konseptualnya. Jika bumi saja sudah digambarkan Nabi sebagai bagian kecil dari realitas yang jauh lebih besar, maka perjalanan lintas ruang tidak lagi tampak mustahil. Yang selama ini terasa mustahil sebenarnya hanyalah batas sudut pandang manusia.
Kesesuaian dengan Kosmologi Modern
Sains modern baru sampai pada kesimpulan ini lebih dari seribu tahun kemudian. Bumi hanyalah satu planet kecil di tata surya biasa. Tata surya berada di pinggiran galaksi Bima Sakti. Galaksi hanyalah satu dari ratusan miliar galaksi lain.
Dalam skala kosmik, bumi bukan pusat, bahkan bukan apa-apa.
Ketika Nabi shallallahu alaihi wasalam menyampaikan perumpamaan cincin di padang pasir, beliau tidak sedang memberi angka atau rumus. Beliau sedang menyampaikan kesan proporsional yang tepat. Dan menariknya, kesan itu justru semakin terbukti ketika ilmu berkembang.
Ini bukan kebetulan linguistik. Ini adalah kesesuaian konsep yang sangat kuat antara wahyu dan realitas alam semesta.
Apakah Ini Bukti Ilmiah?
Secara metodologi, hadis ini bukan eksperimen laboratorium. Islam tidak membutuhkan validasi sains untuk menjadi benar. Namun hadis ini berfungsi sebagai bukti penguat rasional.
Dalam filsafat sains, pernyataan kuno yang tetap relevan setelah ilmu berkembang disebut memiliki conceptual robustness. Pernyataan tersebut tidak runtuh oleh waktu, bahkan semakin bermakna.
Ungkapan Nabi tentang kecilnya bumi berada di kategori ini. Ia tidak dibantah oleh sains, justru dikuatkan.
Implikasinya terhadap Isra’ Mi’raj
Jika bumi digambarkan Nabi shallallahu alaihi wasalam seperti cincin di padang pasir, maka keberatan terhadap Isra’ Mi’raj menjadi jauh lebih lemah. Perjalanan dalam satu malam bukan mustahil ketika jarak kosmik tidak lagi dipandang dari skala bumi.
Isra’ Mi’raj tidak melanggar logika alam semesta. Ia hanya melampaui pengalaman manusia biasa. Dan hadis tentang kecilnya bumi menjadi kunci untuk memahami itu. Bukan Isra’ Mi’raj yang tidak masuk akal. Yang sering bermasalah adalah akal manusia yang terlalu lama merasa menjadi pusat segalanya.
Semakin jauh manusia memandang ke angkasa, semakin jelas satu kenyataan sederhana: bumi memang kecil, dan manusia lebih kecil lagi. Di titik inilah Isra’ Mi’raj tidak lagi terasa mustahil. Yang terasa mustahil justru kesombongan manusia dalam mengukur realitas hanya dengan batas pengalamannya sendiri.
Dan di situlah, Isra’ Mi’raj berdiri bukan sebagai legenda, tetapi sebagai peristiwa agung yang selaras dengan keluasan ciptaan Allah.
Baca Juga:
>>Perjalanan Lintas Waktu: Festival Modern Souq Ukaz di Arab Saudi
>>Keindahan Tersembunyi di Kota Taif, Makkah, Saudi Arabia
>>Kisah Inspiratif Perjalanan Haji Ibnu Battuta
>>Mengapa Nabi Hijrah Ke Madinah? Ini Alasannya!
>>Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Manasik Umrah Lengkap 2025: Panduan Doa, Tata Cara, dan Tips Jamaah
>>Niat Umrah Bersyarat: Doa Arab, Terjemahan, dan Penjelasan Lengkap
>>Fast Track Raudhah: Apa Itu, Cara Daftar, dan Keuntungan bagi Jamaah
>>Rahasia Bisa Masuk Raudhah Lebih dari Sekali dalam Sehari
>>Misteri dan Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Panduan Aplikasi Nusuk 2025: Cara Daftar, Booking Raudhah, dan Fast Track
>>Bolehkah Perempuan Melaksanakan Umrah Saat Haid? Begini Penjelasan Ulama
>>Berapakah Tarif Biaya Badal Umrah 2025?
>>Mengapa Umrah Disebut Haji Kecil? Ini Dia Sejarahnya!
>>Inilah Alasan Mengapa Ka'bah Dipenuhi Oleh Berhala Pada Masa Jahiliyah!
