Mengapa Manasik Penting? Inilah 10 Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi di Lapangan
Banyak jamaah menganggap manasik hanyalah teori dan formalitas, padahal kesalahan di lapangan bisa berakibat fatal—mulai dari salah niat, salah rute thawaf, hingga pelanggaran ihram. Pelajari kesalahan paling umum dan cara menghindarinya agar ibadah umrah berjalan lancar.
BLOGARTIKELBERITAUMRAHMANASIKTIPS
Ibnu Khidhir
11/26/20255 min baca


Bagi sebagian jamaah, terutama yang baru pertama kali berangkat umrah, manasik sering dianggap sebagai sesi teori yang membosankan. Ada yang datang sekadar memenuhi kewajiban, ada yang hadir tapi tidak fokus, dan ada pula yang merasa “nanti juga dibimbing di sana”. Padahal kenyataan di lapangan seringkali jauh berbeda dari teori.
Ibadah umrah adalah rangkaian yang terstruktur, penuh adab, dan sensitif terhadap waktu, tempat, dan kondisi keramaian. Satu kesalahan saja dapat mengganggu kekhusyukan, membuat ibadah terhambat, bahkan mengharuskan jamaah mengulang ibadah atau membayar dam (denda).
Artikel ini membahas kesalahan fatal yang sering terjadi di lapangan akibat menganggap manasik hanya teori—beserta cara praktis menghindarinya.
1. Tidak Memahami Niat Ihram dengan Benar
Kesalahan paling mendasar adalah salah niat atau niat di waktu yang tidak tepat.
Banyak jamaah berpikir niat bisa dilakukan kapan saja selama sudah memakai pakaian ihram.
Kesalahan yang sering terjadi
Berniat sebelum sampai di miqat.
Berniat setelah melewati miqat.
Niat dengan kalimat yang tidak sesuai.
Lupa niat karena panik atau terburu-buru.
Padahal niat umrah adalah penentu sah atau tidaknya ibadah. Hartanya sudah keluar, fisik sudah lelah, perjalanan sudah panjang—namun ibadah bisa tidak sah bila niat salah.
Bagaimana manasik mencegahnya?
Dalam manasik dijelaskan:
Lokasi miqat sesuai rute penerbangan,
Lafaz niat yang tepat,
Waktu yang paling afdal mengucapkannya,
Apa yang harus dilakukan jika lupa niat.
Tanpa memahami ini sejak awal, jamaah bisa mengalami kebingungan parah saat pesawat mendekati miqat—di mana keputusan harus dibuat dalam hitungan menit, bukan teori panjang.
2. Tidak Hafal Urutan Ibadah dan Kebingungan di Tengah Thawaf
Banyak jamaah merasa thawaf mudah karena “hanya mengelilingi Ka’bah tujuh kali”.
Namun di lapangan, urutannya tidak semudah itu:
Keramaian sangat padat,
Arus manusia bergerak cepat,
Lokasi Hajar Aswad tidak selalu terlihat,
Waktu shalat bisa menginterupsi thawaf.
Kesalahan yang sering terjadi
Tidak tahu dari mana memulai putaran.
Mencampur antara thawaf wudhu, thawaf sunnah, dan thawaf umrah.
Posisi tubuh tidak sejajar dengan Ka'bah (akibat terlalu banyak pergerakan yang ga penting seperti berfoto)
Lupa hitungan putaran karena panik.
Terhenti oleh shalat lalu bingung melanjutkan dari mana.
Kesalahan kecil ini bisa menghentikan ibadah umrah dan membuat jamaah harus mengulang thawaf dari awal.
Bagaimana manasik mencegahnya?
Dalam manasik yang baik:
Jamaah dilatih posisi berdiri saat memulai thawaf,
Diberi contoh bagaimana cara menghitung putaran dengan jari,
Diajarkan tanda-tanda visual di Masjidil Haram,
Dijelaskan apa yang harus dilakukan jika terhenti oleh shalat.
Tanpa latihan ini, jamaah mudah sekali panik.
3. Tidak Mengetahui Batas-Batas Sa’i dan Membuat Putaran yang Tidak Sah
Sa’i antara Shafa dan Marwah terlihat mudah, tetapi kenyataannya jamaah pemula sering salah memahami batasnya.
Kesalahan umum di lapangan
Tidak naik ke area bukit Shafa dan Marwah (hanya berhenti di tengah).
Berlari di area yang bukan tempat berlari.
Salah arah karena mengikuti arus jamaah yang ribut.
Tidak tahu bahwa sa'i dihitung sekali Shafa ke Marwah adalah satu, bukan Shafa ke Marwah lalu Marwah ke Shafa dihitung satu.
Kesalahan ini membuat sa’i tidak sah dan harus diulang. Beratnya bukan hanya fisik, tetapi mental.
Manasik mengajarkan jamaah
Lokasi tepat bukit Shafa dan Marwah,
Cara memulai dan mengakhiri,
Area “lampu hijau” yang menjadi tempat berlari,
Urutan yang benar dari putaran 1 hingga 7.
Tanpa memahami simulasi ini, jamaah bisa kehilangan banyak energi untuk sa’i yang harus mereka ulang.
4. Tidak Mengetahui Larangan-Larangan Ihram
Ihram bukan sekadar berpakaian putih. Ihram adalah status hukum dengan aturan ketat.
Sayangnya, banyak jamaah:
Menggaruk kepala, mencabut rambut tanpa sadar,
Memakai parfum karena lupa,
Memotong kuku,
Memakai peniti berlebihan,
Menutupi kepala secara penuh (bagi laki-laki),
Memakai pakaian berjahit (bagi laki-laki),
Atau bercumbu dengan pasangan.
Semua ini termasuk pelanggaran ihram yang memiliki konsekuensi dam/denda.
Mengapa ini sering terjadi?
Karena jamaah tidak memahami detail larangan ihram dalam praktik, hanya sekilas teori.
Dalam manasik dijelaskan:
Contoh nyata apa saja yang masuk kategori pelanggaran,
Situasi di lapangan yang bisa menyebabkan pelanggaran tanpa sadar,
Solusi jika terlanjur melanggar.
Tanpa manasik yang tepat, jamaah berisiko tidak sadar melanggar ihram sepanjang hari.
5. Tidak Memahami Rute: Tersesat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi
Keramaian di Masjidil Haram bisa mencapai ratusan ribu jamaah. Gerbang banyak, lantai banyak, dan desain lorongnya mirip.
Jamaah pemula sering:
Keluar pintu berbeda,
Tidak tahu jalan kembali ke hotel,
Tidak tahu pintu sa’i,
Tidak tahu pintu thawaf,
Salah arah karena mengikuti rombongan lain.
Akhirnya jamaah:
Panik,
Menangis,
Kehilangan rombongan,
Bahkan terlambat untuk ibadah inti.
Di manasik yang baik, diperkenalkan:
Pintu penting Masjidil Haram dan Nabawi,
Cara membaca papan arah,
Cara memilih titik kumpul,
Cara menggunakan denah masjid.
Satu sesi manasik sering “menyelamatkan” jamaah di saat paling penting.
6. Tidak Tahu What to Do When Things Go Wrong
Ibadah di lapangan tidak selalu mulus. Bisa terjadi:
Tiba-tiba wudhu batal,
Tersandung jamaah lain,
Kejepit keramaian,
Terhalang shalat jamaah,
Sakit kaki tengah sa’i,
Terhenti karena penghalang kerumunan.
Tanpa pemahaman dari manasik, jamaah bingung:
Harus mulai dari awal atau melanjutkan?
Boleh duduk sebentar atau tidak?
Apa yang harus dilakukan jika wudhu batal saat thawaf?
Apa hukum thawaf tanpa wudhu?
Manasik memberi “mental map” untuk kondisi darurat
Jamaah yang paham manasik akan tetap tenang meski menghadapi situasi yang tidak ideal.
7. Tidak Mengetahui Adab di Masjid: Dari Pakaian, Suara, hingga Keamanan
Masjidil Haram dan Nabawi memiliki adab khusus:
Tidak mengangkat suara,
Tidak menyimpan barang sembarangan,
Tidak makan di area thawaf,
Menjaga kebersihan,
Duduk sopan,
Mengutamakan lansia.
Jamaah pemula yang kurang manasik sering:
Mengobrol keras,
Membuat lingkaran foto,
Menghalangi jamaah lain,
Duduk sembarangan,
Tidak memahami aturan petugas masjid.
Ini tidak hanya mengganggu orang lain, tetapi juga bisa mengundang teguran.
Manasik mengajarkan adab-adab ini secara praktis, bukan sekadar teori.
8. Tidak Memahami Waktu Terbaik untuk Memulai Ibadah
Kesalahan besar jamaah pemula adalah timing.
Mereka tidak tahu:
Kapan Masjidil Haram paling padat,
Pukul berapa area thawaf paling lengang,
Jam terbaik untuk sa’i,
Bagaimana mengatur makan sebelum ibadah panjang.
Akhirnya:
Mulai thawaf di jam tersibuk,
Sa’i saat kerumunan memuncak,
Tidak sempat wudhu karena toilet penuh,
Terpaksa berdesakan tanpa perlu.
Di manasik, informasi lapangan ini sangat penting, karena membuat ibadah lebih nyaman dan efisien.
9. Tidak Ada Simulasi Langkah Demi Langkah
Banyak jamaah belajar dari video, tetapi di lapangan:
Rute berubah,
Pintu tertentu ditutup,
Keramaian tidak bisa diprediksi,
Arus manusia bergeser.
Semua simulasi teori akan berantakan tanpa latihan mental.
Simulasi yang diperagakan dalam manasik membuat jamaah memahami:
Bagaimana memulai thawaf,
Bagaimana berbelok dari mataf ke sa’i,
Di mana harus berhenti untuk berdoa,
Bagaimana mengikuti mutawwif tanpa panik.
Tidak ada video yang bisa menggantikan manasik langsung.
10. Bergantung 100% pada Mutawwif
Ini kesalahan klasik.
Mutawwif memang membimbing, tetapi:
Mutawwif tidak bisa menjaga semua jamaah satu per satu,
Mutawwif bisa terhalang keramaian,
Mutawwif bisa terpisah dari rombongan,
Mutawwif tidak bisa menjawab semua pertanyaan saat situasi padat.
Jamaah yang menganggap manasik tidak penting akhirnya sangat bergantung pada mutawwif dan panik ketika terpisah.
Manasik membuat jamaah mandiri.
Manasik adalah “Simulasi Nyata”, Bukan Teori Hafalan
Menganggap manasik sebagai teori adalah salah satu kesalahan terbesar dalam persiapan umrah. Ibadah umrah bukan hanya ritual, tetapi perjalanan fisik, mental, dan spiritual yang membutuhkan pengetahuan teknis.
Dengan memahami manasik dengan benar, jamaah dapat:
Lebih percaya diri,
Tidak panik saat situasi tidak ideal,
Tidak salah niat,
Tidak salah urutan ibadah,
Tidak melanggar ihram,
Tidak tersesat,
Tidak mengulang ibadah.
Manasik adalah peta jalan yang membuat ibadah lebih tenang dan khusyuk.
Baca Juga:
>>Perjalanan Lintas Waktu: Festival Modern Souq Ukaz di Arab Saudi
>>Keindahan Tersembunyi di Kota Taif, Makkah, Saudi Arabia
>>Kisah Inspiratif Perjalanan Haji Ibnu Battuta
>>Mengapa Nabi Hijrah Ke Madinah? Ini Alasannya!
>>Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Manasik Umrah Lengkap 2025: Panduan Doa, Tata Cara, dan Tips Jamaah
>>Niat Umrah Bersyarat: Doa Arab, Terjemahan, dan Penjelasan Lengkap
>>Fast Track Raudhah: Apa Itu, Cara Daftar, dan Keuntungan bagi Jamaah
>>Rahasia Bisa Masuk Raudhah Lebih dari Sekali dalam Sehari
>>Misteri dan Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Panduan Aplikasi Nusuk 2025: Cara Daftar, Booking Raudhah, dan Fast Track
>>Bolehkah Perempuan Melaksanakan Umrah Saat Haid? Begini Penjelasan Ulama
>>Berapakah Tarif Biaya Badal Umrah 2025?
>>Mengapa Umrah Disebut Haji Kecil? Ini Dia Sejarahnya!
>>Inilah Alasan Mengapa Ka'bah Dipenuhi Oleh Berhala Pada Masa Jahiliyah!
