Sirah Nabawiyah Episode 2: Peristiwa Kelahiran Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam

Kisah menegangkan Tahun Gajah, kehancuran pasukan Abrahah, dan tanda-tanda langit menjelang kelahiran Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam. Sebelum Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam lahir, langit dan bumi menampakkan tanda-tanda besar: pasukan gajah hancur, api Persia padam, dan cahaya kenabian mulai bersinar.

BLOGSEJARAH ISLAMSIRAH NABAWIYAHSEJARAHJEJAK RASULARTIKEL

Ibnu Khidhir

11/25/20256 min baca

Malam itu, langit Makkah begitu tenang. Angin gurun berhenti berembus, bintang-bintang bersinar lebih terang dari biasanya, dan udara terasa damai, seolah bumi sedang menunggu sesuatu yang agung. Di sebuah rumah sederhana milik keluarga Bani Zuhrah, seorang perempuan bernama Āminah binti Wahb tengah menahan perih dan haru. Ia sedang menunggu kelahiran anak pertamanya — seorang anak yatim sejak dalam kandungan — yang kelak akan membawa cahaya bagi dunia.

Tahun itu dikenal sebagai ‘Āmul Fīl (Tahun Gajah), tahun di mana Allah menundukkan pasukan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka‘bah. Lembah Mu‘ayṣim — di antara Makkah dan Mina — menjadi saksi bagaimana burung-burung abābīl menjatuhkan batu-batu panas yang menghancurkan pasukan sombong itu. Sejak peristiwa itu, bangsa Arab menyadari bahwa ada kekuatan gaib yang melindungi Tanah Haram. Namun mereka belum tahu bahwa beberapa bulan kemudian, di tanah yang sama, Allah akan menghadirkan rahmat yang lebih besar: kelahiran Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam.

Malam itu bukan sekadar malam kelahiran seorang bayi, melainkan malam kelahiran peradaban baru. Sebab kelak, dari tangisan bayi ini, dunia akan mengenal kelembutan, keadilan, dan kasih sayang yang belum pernah ada sebelumnya.

Malam yang Diterangi Cahaya

Riwayat dari Dalā’il an-Nubuwwah karya al-Bayhaqī menyebutkan, Āminah mengisahkan sendiri pengalaman menakjubkan saat melahirkan:

عَنِ آمنةَ بنتِ وهبٍ قالتْ:
"لَمْ أَجِدْ حِينَ حَمَلْتُ بِهِ مَا تَجِدُ النِّسَاءُ مِنَ الثِّقْلِ، وَرَأَيْتُ حِينَ وَضَعْتُهُ كَأَنَّ نُورًا خَرَجَ مِنِّي أَضَاءَ لِي قُصُورَ بُصْرَى مِنْ أَرْضِ الشَّامِ."

“Ketika aku mengandungnya, aku tidak merasakan berat sebagaimana dialami para wanita. Dan ketika aku melahirkannya, kulihat cahaya keluar dariku hingga menerangi istana Busra di negeri Syam.”
(Dalā’il an-Nubuwwah, al-Bayhaqī, 1/83)

Cahaya itu bukan hanya simbol kebesaran, melainkan tanda spiritual — bahwa dari rahim wanita Quraisy ini akan lahir pembawa cahaya yang menerangi timur dan barat dunia. Para malaikat hadir dalam ketenangan malam itu, dan bumi seakan ikut bergetar oleh kehadiran makhluk termulia di antara manusia.

Sosok yang Menemani Āminah

Riwayat menyebutkan bahwa ketika saat kelahiran tiba, Āminah tidak sendirian. Ada seorang wanita setia bernama Tsuwaibah, budak perempuan milik Abu Lahab. Abu Lahab — paman dari ‘Abdullāh, ayah Nabi — memerintahkan Tsuwaibah untuk membantu proses persalinan itu. Ia menemaninya dengan penuh kasih hingga akhirnya bayi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam lahir dengan selamat.

Tangisan pertama itu menggetarkan rumah kecil di Makkah. Seorang bayi bersih, suci, dan harum seperti kasturi, membuka matanya ke dunia. Wajahnya bercahaya, seakan menyimpan rahasia langit.

Tsuwaibah segera keluar membawa kabar gembira kepada Abu Lahab. “Telah lahir seorang anak laki-laki bagi saudaramu, ‘Abdullāh!” katanya dengan wajah berseri. Mendengar berita itu, Abu Lahab — yang saat itu masih dikuasai rasa bangga keluarga — bergembira besar dan langsung memerdekakan Tsuwaibah sebagai tanda syukur.

Riwayat ini disebutkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī:

عَنْ عُرْوَةَ، قَالَتْ ثُوَيْبَةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهَبٍ كَانَتْ أَرْضَعَتِ النَّبِيَّ ﷺ، فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَ بَعْضُ أَهْلِهِ فِي النَّوْمِ بِشَرِّ حَالٍ، فَقَالَ: مَا لَقِيتُ بَعْدَكُمْ رَاحَةً، غَيْرَ أَنِّي أُسْقَى فِي هَذِهِ بِعِتْقِي ثُوَيْبَةَ.

“Tsuwaibah, budak wanita Abu Lahab, pernah menyusui Nabi ﷺ. Setelah Abu Lahab meninggal, seseorang dari keluarganya bermimpi melihatnya dalam keadaan buruk. Abu Lahab berkata: ‘Aku tidak mendapat keringanan sedikit pun kecuali pada hari Senin, karena pada hari itu aku memerdekakan Tsuwaibah.’”
(Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 5101)

Dari sini, para ulama mengambil pelajaran bahwa jika seorang kafir seperti Abu Lahab mendapat keringanan azab karena bergembira atas kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan orang beriman yang merayakannya dengan cinta dan syukur?

Proses Kelahiran yang Penuh Keajaiban

Sebagian besar ahli sejarah seperti Ibn Ishaq, Ibn Hisham, dan al-Ṭabarī sepakat bahwa Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabi‘ul Awwal, bertepatan dengan Tahun Gajah (sekitar 570 Masehi). Namun sebagian riwayat menyebut tanggal 8 atau 9 Rabi‘ul Awwal. Rasulullah sendiri pernah bersabda:

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

“Ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: Itulah hari aku dilahirkan.”
(Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1162)

Dalam banyak riwayat disebutkan, beliau lahir dalam keadaan bersih, telah terpotong tali pusarnya, dan sudah berkhitan. Tidak ada darah kotor, tidak ada tangisan keras — hanya ketenangan luar biasa yang menyelimuti ruang itu. Wajahnya bercahaya, tubuhnya harum, dan pandangannya lembut.

Āminah menatap anaknya dengan penuh air mata. Ada bahagia, tapi juga kesedihan mendalam. Sebab ayah dari bayi itu, ‘Abdullāh bin ‘Abdil Muththalib, telah wafat beberapa bulan sebelumnya saat dalam perjalanan dagang ke Syam. Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam lahir sebagai yatim — anak tanpa ayah, tapi dengan perlindungan langsung dari Allah.

Yatim Sejak Dalam Kandungan

Kisah wafatnya ayah Nabi penuh haru. Saat itu, ‘Abdullāh baru saja menikah dengan Āminah. Dalam perjalanan dagang bersama kafilah Quraisy, ia singgah di Madinah (Yatsrib) dan jatuh sakit. Ia meninggal dunia di sana, di rumah kerabatnya dari Bani ‘Adī bin Najjār, dan dimakamkan di antara mereka. Saat itu, Āminah baru beberapa bulan mengandung.

Maka ketika Nabi lahir, beliau tidak pernah melihat wajah ayahnya. Ia lahir sebagai anak yatim, sebagaimana firman Allah kelak mengingatkan:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”
(QS. ad-Ḍuḥā [93]: 6)

Dalam Sirah Ibn Ishaq, diceritakan bahwa Āminah berkata:

“Ketika aku mengandungnya, aku mendengar suara berkata: ‘Engkau mengandung pemimpin umat ini. Bila ia lahir, ucapkanlah: Aku memohon perlindungan untuknya kepada Tuhan Yang Maha Esa dari segala kejahatan.’”

Karena keyakinan itu, ketika bayi itu lahir, Āminah memberinya nama “Muhammad”, yang berarti orang yang banyak dipuji. Nama yang belum pernah dikenal dalam masyarakat Arab sebelumnya.

Ketika ditanya mengapa ia memilih nama itu, Āminah menjawab:

“Agar ia dipuji di langit dan di bumi.”

Abdul Muththalib dan Tangisan di Ka‘bah

Berita kelahiran cucunya segera sampai ke telinga ‘Abdul Muththalib, kakek Nabi yang sangat disegani di Makkah. Ia segera datang dan menggendong bayi mungil itu dengan air mata bahagia. Tanpa menunggu lama, ia membawanya ke Ka‘bah, berdiri di hadapan Baitullah, lalu berdoa:

“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku anak ini. Semoga Dia memberkahinya dan menjadikannya pembawa kebaikan bagi umat manusia.”

Tangis haru kakek tua itu mengiringi gema doa di hadapan Ka‘bah. Ia lalu melakukan ‘aqīqah dengan menyembelih beberapa ekor unta dan memberi makan penduduk Makkah. Sejak saat itu, beliau sangat mencintai Muhammad kecil, bahkan lebih dari anak-anaknya sendiri.

Tanda-Tanda Langit dan Bumi

Malam kelahiran Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengguncang Makkah, tapi juga seluruh dunia. Dalam riwayat klasik disebutkan berbagai tanda luar biasa:

  1. Api Majusi di Persia — yang selama seribu tahun tidak pernah padam — tiba-tiba padam malam itu.

  2. Danau Sāwah di wilayah Hamadān mengering.

  3. Empat belas menara istana Kisra Persia runtuh, seolah memberi isyarat bahwa kekaisaran itu akan berakhir.

  4. Cahaya di langit Syam tampak menembus arah timur ke barat, hingga membuat para pendeta Nasrani berkata: “Telah lahir nabi baru di tanah Arab.”

Peristiwa-peristiwa ini dicatat oleh sejarawan seperti Ibn Sa‘d dalam Ṭabaqāt, al-Suhaylī dalam Rawḍ al-Unuf, dan al-Qasṭallānī dalam al-Mawāhib al-Ladunniyyah.

Kasih Seorang Ibu Susuan

Beberapa hari setelah kelahiran, Tsuwaibah — yang telah dimerdekakan — datang membawa susu dan menyusui bayi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam. Ia menjadi ibu susuan pertama sebelum Halimah as-Sa‘diyah.

Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak pernah melupakan jasanya. Dalam riwayat Ṣaḥīḥ al-Bukhārī disebutkan bahwa beliau kerap mengirim hadiah kepada Tsuwaibah, bahkan menanyakan kabarnya hingga masa hijrah ke Madinah. Ketika diberitahu bahwa Tsuwaibah telah wafat, beliau tampak berduka.

Cinta dan penghormatan beliau kepada orang-orang yang pernah menolongnya menunjukkan betapa lembut hati Rasulullah sejak muda.

Tangis Āminah dan Isyarat dari Langit

Beberapa waktu setelah kelahiran, Āminah sering menatap anaknya dalam diam. Ia tahu, anak ini berbeda. Ia pernah bermimpi melihat tali dari perutnya menjulur ke langit dan menyinari timur dan barat. Suara gaib berkata kepadanya:

“Engkau telah melahirkan pemimpin umat ini.”

Āminah menangis haru. Ia sadar, anak ini bukan sekadar miliknya, tapi milik seluruh umat manusia. Ia melahirkannya dengan cinta, tapi juga dengan kesadaran bahwa suatu hari, ia akan menyerahkan anak itu kepada takdir dan misi besar dari langit.

Cahaya dari Tanah Arab

Kelahiran Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam menandai titik balik sejarah umat manusia. Dunia yang diliputi kegelapan moral, kekacauan akidah, dan penindasan sosial kini menyambut cahaya baru.

Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas.”
(QS. al-Mā’idah [5]: 15)

Cahaya itu kini lahir, dalam sosok seorang anak yatim yang akan tumbuh menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Demikianlah kisah malam kelahiran Sang Yatim — malam di mana langit bersinar, bumi bersujud, dan rahmat Allah turun menyelimuti Makkah. Dari rumah sederhana di Bani Zuhrah, lahir seorang manusia mulia yang kelak akan mengubah dunia bukan dengan kekuasaan, tapi dengan kasih dan kejujuran.

Tangisan bayi itu menjadi awal dari dakwah agung. Ia lahir tanpa ayah, tapi dijaga oleh Tuhan semesta alam. Ia dibesarkan tanpa kemewahan, tapi membawa kemuliaan bagi seluruh makhluk. Dari lembah kering di Tanah Haram, lahirlah Muhammad bin ‘Abdullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam, sang cahaya abadi.

Baca Juga:
>>Perjalanan Lintas Waktu: Festival Modern Souq Ukaz di Arab Saudi
>>Keindahan Tersembunyi di Kota Taif, Makkah, Saudi Arabia
>>Kisah Inspiratif Perjalanan Haji Ibnu Battuta
>>Mengapa Nabi Hijrah Ke Madinah? Ini Alasannya!
>>Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah

>>Manasik Umrah Lengkap 2025: Panduan Doa, Tata Cara, dan Tips Jamaah
>>Niat Umrah Bersyarat: Doa Arab, Terjemahan, dan Penjelasan Lengkap
>>Fast Track Raudhah: Apa Itu, Cara Daftar, dan Keuntungan bagi Jamaah
>>Rahasia Bisa Masuk Raudhah Lebih dari Sekali dalam Sehari

>>Misteri dan Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah

>>Panduan Aplikasi Nusuk 2025: Cara Daftar, Booking Raudhah, dan Fast Track
>>Bolehkah Perempuan Melaksanakan Umrah Saat Haid? Begini Penjelasan Ulama

>>Berapakah Tarif Biaya Badal Umrah 2025?
>>Mengapa Umrah Disebut Haji Kecil? Ini Dia Sejarahnya!
>>Inilah Alasan Mengapa Ka'bah Dipenuhi Oleh Berhala Pada Masa Jahiliyah!