Sirah Nabawiyah Episode 3: Masa Kecil Nabi Muhammad dalam Asuhan Halimah as-Sa’diyah
Kisah masa kecil Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam bersama Halimah as-Sa’diyah, tradisi penyusuan Arab, dan keajaiban-keajaiban di perkampungan Bani Sa’d.
BLOGSEJARAH ISLAMSEJARAHSIRAH NABAWIYAHJEJAK RASUL
Ibnu Khidhir
12/2/20255 min baca


Padang pasir Hijaz pada awal abad ke-6 Masehi terkenal dengan angin kering yang berhembus tanpa lelah dan hamparan tanah tandus sejauh mata memandang. Namun di balik kerasnya alam itu, masyarakat Arab melahirkan tradisi luhur yang berlangsung turun-temurun, yaitu tradisi penyusuan kepada keluarga Baduwi atau Badui. Anak-anak kota, terutama yang lahir di keluarga terhormat, dibesarkan beberapa tahun di tengah masyarakat gurun agar tubuh mereka kuat, logat bahasa mereka fasih, dan watak mereka ditempa dengan keberanian, kesabaran, serta keteguhan.
Tradisi itu pula yang mengantar Muhammad kecil — bayi yatim yang baru dilahirkan di Mekah — ke pelukan seorang wanita dari kabilah Bani Sa’d bin Bakr. Wanita itu bernama Halimah binti Abi Dzu’aib as-Sa’diyah, seorang ibu yang kelak menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah awal kehidupan Rasul terakhir. Bersama suaminya, al-Harits bin ‘Abdil ‘Uzza, Halimah datang ke Mekah dalam keadaan miskin, lemah, dan hampir putus harapan. Tahun itu dilanda paceklik. Angin panas menyesakkan dada, hewan ternak banyak yang mati, dan tidak ada seorang pun di kafilah Bani Sa’d yang merasa perjalanan mereka akan berjalan mudah.
Namun tak satu pun dari mereka menyangka bahwa perjalanan itu akan mengubah takdir.
Kafilah Bani Sa’d dan Awal Perjumpaan
Setiap tahun, kafilah wanita-wanita penyusu dari Bani Sa’d mendatangi Mekah untuk menawarkan diri menyusui bayi-bayi Quraisy. Mereka berharap mendapatkan imbalan yang bisa membantu keluarga, sekaligus menjaga tradisi mulia yang diwariskan nenek moyang. Halimah berjalan bersama rombongannya dengan tunggangan yang lemah, ekor unta kurus melambai-lambai, dan sampingnya seekor keledai yang hampir tak mampu melangkah.
Ketika para wanita lain sudah mendapatkan anak-anak kaya dari Quraisy, Halimah justru baru memasuki kota Makkah, sehingga Halimah tidak mendapati seorang anak pun kecuali Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam. Setiap ibu lebih memilih bayi dengan ayah yang masih hidup, karena kehadiran ayah berarti jaminan pemberian yang lebih besar. Sedangkan bayi bernama Muhammad hanyalah seorang yatim — ayahnya, Abdullah, wafat sebelum ia lahir. Setiap ibu yang mendengarnya langsung menolak.
Pada akhir hari, ketika semua bayi telah dibawa pergi, hanya Muhammad yang belum dipilih. Bahkan, Halimah memandang suaminya dengan perasaan gundah. Tak mungkin pulang dengan tangan kosong. Suaminya, al-Harits, berkata dengan lembut, “Ambillah bayi itu. Barangkali Allah menjadikan keberkahan melalui dirinya.” Kalimat itu membawa kelegaan ke dada Halimah. Ia mendekati Aminah, ibu sang bayi, dengan hati yang masih ragu tapi juga penuh harapan.
Ketika menggendong Muhammad untuk pertama kali, Halimah merasakan kehangatan yang sulit dijelaskan. Seolah tubuh kecil itu memancarkan ketenangan. Dalam riwayat Ibn Ishaq disebutkan bahwa sejak saat itu, Halimah mengetahui bahwa bayi itu bukan bayi biasa.
Keajaiban Pertama di Pelukan Halimah
Di perjalanan pulang menuju perkampungan Bani Sa’d, keajaiban pertama terjadi. Keledai yang semula lemah tiba-tiba berlari lebih cepat dari tunggangan wanita-wanita lain. Mereka terkejut melihat Halimah yang biasanya tertinggal jauh, kini berada di depan. Mereka berteriak, “Wahai Halimah, tunggu kami! Apakah itu keledaimu yang sama?”
Halimah hanya tersenyum, memeluk bayi kecil yang tertidur dengan damai di pangkuan.
Ketika sampai di rumah, keajaiban lain menunggu. Payudara Halimah yang sebelumnya kering kini penuh air susu. Muhammad menyusu sampai kenyang, lalu putra Halimah yang lain pun menyusu hingga puas. Hewan ternak yang biasanya tak memberikan setetes susu kini kembali menghasilkan susu yang melimpah. Keluarga Halimah menyadari bahwa keberkahan telah memasuki rumah mereka.
Dalam riwayat-riwayat sirah seperti Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq, Tabaqat al Kubra, atau Dalail an Nubuwat tentang Halimah as-Sa‘diyah disebutkan bahwa sejak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal bersama mereka, keberkahan tampak pada ternak, hasil bumi, dan kehidupan keluarga tersebut. Bukan hanya susu — tetapi tanah mereka menjadi lebih subur, domba-domba mereka kembali gemuk, dan kehidupan mereka berubah perlahan dari kesempitan menuju kelapangan.
Perkampungan Bani Sa’d: Sekolah Pertama Muhammad
Muhammad kecil tumbuh di bawah langit perkampungan Bani Sa’d yang ada di wilayah Thaif— tempat yang jauh dari hiruk-pikuk Mekah, tempat bahasa Arab yang paling fasih dijaga dengan ketat. Halimah dan keluarga memperlakukannya dengan kasih sayang. Ketika Muhammad mulai belajar berjalan, ia menyentuh tanah padang pasir dengan kaki kecil yang kuat. Setiap langkahnya seakan memiliki makna, seakan alam gurun mengenali kehadirannya.
Perkampungan Bani Sa’d bukan hanya rumah baru baginya, tetapi juga ruang pendidikan awal yang membentuk karakter. Ia belajar hidup sederhana, kuat menahan lapar, sabar menghadapi perubahan cuaca, dan lembut dalam bersosial. Anak-anak Bani Sa’d tumbuh dengan keberanian dan ketegasan, dan Muhammad tumbuh di tengah mereka dengan kepribadian yang lebih anggun dan lebih tenang.
Halimah selalu merasakan kedekatan yang sulit dijelaskan. Ketika Muhammad tersenyum, seluruh rumah serasa dipenuhi cahaya.
Peristiwa Pembelahan Dada (Syaqqush Shadr)
Salah satu peristiwa paling masyhur di masa kecil beliau adalah pembelahan dada oleh malaikat. Peristiwa ini diriwayatkan dalam banyak hadis sahih. Muslim meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَاهُ جِبْرِيلُ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ، فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ، فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ، فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً، فَقَالَ: هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ
“Ketika Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam sedang bermain dengan anak-anak, datang Jibril dan membelah dadanya, lalu mengeluarkan segumpal darah sambil berkata: ‘Inilah bagian setan darimu.’” (HR. Muslim)
Riwayat yang sama menjelaskan bahwa malaikat lalu mencuci hati itu dengan air zamzam di dalam bejana emas, kemudian mengembalikannya ke tempatnya. Anak-anak Bani Sa’d yang melihat kejadian itu berlari ketakutan dan berkata kepada Halimah:
“Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh!”
Halimah dan suaminya bergegas menghampiri. Mereka menemukan Muhammad dalam keadaan pucat tetapi tenang. Halimah memeluknya erat-erat. Sejak saat itu, kekhawatiran mulai muncul di hati Halimah, meski ia tidak pernah berhenti merawat dan mencintai Muhammad kecil.
Keputusan Mengembalikan Muhammad ke Mekah
Peristiwa pembelahan dada membuat Halimah merasa bahwa Muhammad bukan anak sembarangan. Ia ingin menjaganya dari bahaya, tetapi pada saat yang sama khawatir jika ada sesuatu yang tidak mampu ia tanggung. Ia pun memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya di Mekah sebelum waktunya.
Aminah terkejut melihat Halimah datang begitu cepat. Ia tahu bahwa Halimah sangat mencintai Muhammad dan tidak akan mengembalikannya tanpa alasan. Ketika Halimah menceritakan peristiwa pembelahan dada, Aminah mendengarkan dengan penuh ketenangan. Ia berkata:
“Anakku ini berbeda sejak aku mengandungnya. Aku tidak takut apa pun yang terjadi padanya.”
Meskipun begitu, Halimah akhirnya menyerahkan Muhammad kembali kepada ibunya. Perpisahan itu berat bagi Halimah. Ia merasa seakan melepaskan cahaya dari rumahnya. Namun garis takdir membawa Muhammad kembali ke Mekah untuk menjalani fase kehidupan berikutnya.
Makna Besar di Balik Tahun-Tahun Bersama Halimah
Masa kecil Muhammad bersama Halimah bukan hanya cerita tentang penyusuan atau kehidupan gurun. Itu adalah fase pembentukan jiwa — masa ketika karakter kenabian ditempa oleh alam, oleh kefakiran yang tidak mematahkan martabat, oleh kesabaran menghadapi kerasnya cuaca, dan oleh kedekatan dengan langit yang membentang luas.
Bani Sa’d memberikan Muhammad lingkungan yang jujur, murni, dan terjauh dari kerusakan moral kota. Di tempat itulah beliau belajar keberanian, ketajaman pengamatan, kekuatan badan, serta kelembutan hati. Dan Halimah, dengan kasih sayangnya, menjadi simbol wanita Arab yang memelihara amanah Tuhan tanpa mengetahui bahwa ia sedang menjaga seorang Nabi.
Halimah dan Kabar Kenabian
Bertahun-tahun setelah nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, Halimah datang ke Mekah. Rasulullah menyambutnya dengan penuh hormat, memanggilnya “ibuku”, dan menghamparkan selendang untuk beliau duduki. Para sahabat yang melihatnya tahu bahwa wanita itu memiliki kedudukan istimewa.
Kasih sayang itu tidak berubah. Muhammad tidak pernah melupakan masa kecilnya bersama Halimah. Dalam banyak riwayat, beliau selalu mengenang kebaikan keluarga Bani Sa’d.
Di padang pasir yang sunyi itu, di antara angin kering dan hamparan bukit tandus, tumbuh seorang anak yang kelak mengubah dunia. Tidak ada kemewahan, tidak ada istana, hanya rumah kecil Halimah dan suara angin gurun yang menemani pertumbuhannya.
Namun di balik kesederhanaan itu, Allah menanamkan cahaya kenabian sedikit demi sedikit. Perkampungan Bani Sa’d menjadi tempat awal turunnya keberkahan, tempat rangkaian mukjizat kecil terjadi, dan tempat seorang bayi yatim dibesarkan menjadi pribadi yang mulia.
Ketika dunia membutuhkan cahaya, Allah menumbuhkannya dalam rahim seorang ibu Quraisy, lalu menitipkannya kepada seorang wanita sederhana dari Bani Sa’d. Dan dari gurun tandus itu, lahirlah keindahan, kasih sayang, dan risalah yang menuntun seluruh umat manusia.
Baca Juga:
>>Perjalanan Lintas Waktu: Festival Modern Souq Ukaz di Arab Saudi
>>Keindahan Tersembunyi di Kota Taif, Makkah, Saudi Arabia
>>Kisah Inspiratif Perjalanan Haji Ibnu Battuta
>>Mengapa Nabi Hijrah Ke Madinah? Ini Alasannya!
>>Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Manasik Umrah Lengkap 2025: Panduan Doa, Tata Cara, dan Tips Jamaah
>>Niat Umrah Bersyarat: Doa Arab, Terjemahan, dan Penjelasan Lengkap
>>Fast Track Raudhah: Apa Itu, Cara Daftar, dan Keuntungan bagi Jamaah
>>Rahasia Bisa Masuk Raudhah Lebih dari Sekali dalam Sehari
>>Misteri dan Alasan Abrahah Ingin Menghancurkan Kabah
>>Panduan Aplikasi Nusuk 2025: Cara Daftar, Booking Raudhah, dan Fast Track
>>Bolehkah Perempuan Melaksanakan Umrah Saat Haid? Begini Penjelasan Ulama
>>Berapakah Tarif Biaya Badal Umrah 2025?
>>Mengapa Umrah Disebut Haji Kecil? Ini Dia Sejarahnya!
>>Inilah Alasan Mengapa Ka'bah Dipenuhi Oleh Berhala Pada Masa Jahiliyah!
